Dosen Sekolah Vokasi UNDIP, Temukan Nanopolifenol Teh Hijau Bebas Kafein

SEMARANG–Berbagai campuran makanan dengan teh hijau (Green Tea) seperti donat, es krim, semua jenis bakery (roti) hingga martabak telah banyak ditemui di Indonesia saat ini. Produk makanan olahan hasil campuran dengan teh hijau dilakukan bertujuan untuk menyehatkan ketika dikonsumsi bahkan bisa mengurangi kandungan lemak. Telah kita ketahui bersama bahwa teh hijau mengandung antioksida, antiradang dan antikanker yang baik untuk menjaga kesehatan tubuh, sehingga memberikan manfaaat seperti mencegah penyakit jantung dan stroke, menghambat pertumbuhan sel kanker, mencegah diabetes bahkan bisa menurunkan berat badan serta manfaat lainnya.  Hal ini sesuai dengan perwujudan dari 17 indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) adalah ‘Kehidupan Sehat dan Sejahtera’.

Faktanya produk makanan yang sudah dicampur dengan teh hijau memiliki efek samping ketika dikonsumsi terlalu banyak, seperti dapat menyebabkan rasa perih pada perut bahkan tidak baik bagi para penderita maag yang akut. Hal ini disebabkan terdapat komponen kafein dalam teh hijau yang tidak baik dikonsumsi secara berlebihan, bahkan tidak baik dikonsumsi pada anak-anak dan manula. Berdasarkan observasi dari lima orang dosen Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (UNDIP) meneliti cara efek kafein dari teh hijau bisa diminimalisasi. Kelima dosen yang melakukan penelitian adalah Mohamad Endy Yulianto, S.T., M.T., Dr. Eng. Vita Paramita, S.T., M.M., M. Eng., Dr. Ir Eflita Yohana, M.T. dan Dr. Dada Rohdiana. Penelitian yang dilakukan difokuskan pada “Komersialisasi Produk Monopolifenol Teh Hijau Bebas Kafein Sebagai Inkorporasi Functional Food Melalui Teknik Inaktivasi Enzimatis” yang bertujuan untuk memisahkan teh hijau dengan komponen kandungan kafein.

“Selain terdapat komponen kandungan kafein di dalam teh hijau, ada juga kandungan tanin dan polifenol yang cukup tinggi. Kandungan tanin dan polifenol inilah yang memiliki banyak manfaat ketika dikonsumsi tanpa efek samping seperti mencegah kanker, penyakit jantung, stroke, diabetes dan lainnya. Inilah fokus pada teman-teman dalam penelitian ini dengan harapan dapat menghasilkan teh hijau yang berkualitas sesuai perwujudan dari 17 indikator Sustainable Development Goals (SDGs) yang ke-3 yakni ‘Kehidupan Sehat dan Sejahtera’. Sehingga nantinya ketika dibuat makanan fungsional atau functional food siapapun bisa dimakan tanpa khawatir efek samping,” kata M Endy, Jumat (1/04/2022).

Tidak hanya itu, salah satu mahasiswa bernamakan Palupi Diah Utami yang mengikut penelitian ini bertutur, “Kegiatan ini sangat bermanfaat selama pandemi COVID-19 ketika perkuliahan diselenggarakan secara online. Dengan adanya penelitian dosen yang melibatkan mahasiswa meningkatkan ilmu, pengalaman, dan melatih kerja sama”. Dalam proses pemisahannya sendiri diungapkan bahwa dilakukan pengembangan produk bubuk teh hijau berkadar kafein rendah melalui inaktivasi enzimatis dengan menerapkan proses blanching serta menerapkan proses nanoenkapsulasi powder teh hijau bebas kafein dan berkadar polifenol tinggi menggunakan biopolimer liposom dengan menerapkan proses pengering sembur. “Proses pemisahannya produksi teh hijau bebas kafein terdiri atas proses blanching, pengeringan, grinding, brewing, sentrifugasi, filtrasi, pemekatan, nanoenkapsulasi dan pengering sembur,” tutur Endy. Setelah pemisahan teh hijau dari kandungan kafein telah dilakukan, produk teh hijau akan dikomersilkan disebabkan memiliki potensi yang tinggi mengingat nilai pasar global produk material nano dan produk inkorporasinya diperkirakan akan meningkat hingga 50 persen. Komersialisasi akan dilakukan melalui kerja sama dengan industri teh hijau yang prospektif dan kompetitif yakni industri teh hijau Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung di Bandung Selatan.

“Alhamdulillah melalui Lembaga Penelitian dan Pengandian Masyarakat atau LPPM Sekolah Vokasi Undip kami bisa bekerjasama dengan industri teh hijau PPTK Gambung di Bandung Selatan. Harapan dari kerja sama ini nantinya didapatkan produksi teh hijau yang telah dipisahkan dengan kafein kemudian dapat dikomersialkan kepada masyarakat, sehingga tahun depan dapat diproduksi dan langsung dipasarkan kepada masyarakat,” dia berharap. Pada kepengurusan PPTK Gambung di Bandung Selatan diketahui terdapat para dokter yang termasuk seorang ahli farmasi. Yang bersangkutan menjadi partner untuk manfaat kandungan komponen kafein dalam teh hijau yang sudah dipisahkan untuk diproduksi dimanfaatkan sebagai obat-obatan yang juga memiliki banyak manfaat seperti penambah daya ingat, antidiabet bahkan mencegah rambut rontok.

Kerjasama dengan PPTK Gambung ini juga dilakukan penelitian pada semua aspek usaha dan industri teh, antara lain pemuliaan tanaman, perlindungan tanaman, tanah dan pemupukan, manajemen kebun teh, pengolahan dan perbaikan mutu, diversifikasi produk jadi, sosial ekonomi, perdagangan, kebijakan, dan kelembagaan. “Tentunya ini sangat membantu dan mendukung hasil kerja keras kami dalam melakukan penelitian selama ini, sehingga produk nanopolifenol teh hijau bebas kafein sebagai inkorporasi functional food benar-benar dapat dirasakan masyarakat terlebih aman untuk dikonsumsi bagi semua orang,” tukasnya.